14 Oktober 2026

Menyusuri Arena MTQ ke-55 Kabupaten Kampar: Menjaga Kelancaran, Menguatkan Pembinaan, Menghidupkan Syiar Al-Qur’an


360 views

Gunung Sahilan — Di bawah langit cerah Kecamatan Gunung Sahilan, Selasa (13/10/2026), semangat syiar Al-Qur’an terus menggema. Hari kedua pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-55 tingkat Kabupaten Kampar tahun 2026 menjadi momentum penting untuk menyaksikan bagaimana ayat-ayat suci Al-Qur’an dilantunkan, dihafalkan, dipahami, dan dihadirkan sebagai cahaya dalam kehidupan masyarakat.

Di tengah kesibukan berbagai arena perlombaan, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kampar, Dr. H. Erizon Efendi, bersama Dewan Pengawas, H. Ahmad Fadhli dan Syarifudin, didampingi Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimais) Kemenag Kampar yang juga Koordinator Pelaksanaan MTQ, H. Zulfaimar, S.Ag., M.A.P., turun langsung memantau sejumlah cabang perlombaan.

Kunjungan tersebut bukan sekadar memastikan kegiatan berjalan sesuai jadwal. Lebih dari itu, pemantauan menjadi bentuk perhatian terhadap kerja keras panitia, kesiapan lokasi perlombaan, serta perjuangan para qari dan qariah yang membawa nama kecamatan masing-masing.

Di setiap arena, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat oleh mata. Ada anak-anak yang belajar mengenal keindahan lantunan Al-Qur’an, remaja yang mengasah kemampuan tilawah, para penghafal yang menjaga ayat demi ayat dalam ingatan, serta peserta yang mempersiapkan diri dengan penuh kesungguhan demi memberikan penampilan terbaik.

Di balik penampilan beberapa menit di hadapan dewan hakim, tersimpan proses panjang berupa latihan, kedisiplinan, doa, dan dukungan keluarga maupun para pembimbing. Itulah sisi lain MTQ yang patut mendapat perhatian: bukan hanya tentang siapa yang meraih juara, melainkan juga tentang bagaimana kecintaan kepada Al-Qur’an terus tumbuh di tengah masyarakat.

Kelancaran pelaksanaan dan pekerjaan besar pembinaan

Berdasarkan hasil pemantauan di sejumlah lokasi, Dr. H. Erizon Efendi menyampaikan bahwa pelaksanaan MTQ ke-55 tingkat Kabupaten Kampar berjalan lancar. Menurutnya, panitia telah bekerja secara maksimal dan profesional dalam menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan.

Apresiasi tersebut menjadi penyemangat bagi semua pihak yang telah mencurahkan tenaga dan pikiran demi kelancaran perhelatan keagamaan ini.

Namun, bagi Erizon Efendi, keberhasilan MTQ tidak cukup diukur dari kelancaran penyelenggaraan. Ada pekerjaan besar yang harus terus dilanjutkan setelah perlombaan berakhir, yakni meningkatkan kualitas pembinaan qari dan qariah di setiap kecamatan.

Ia menegaskan bahwa pembinaan harus semakin diperkuat agar para peserta mampu menunjukkan kemampuan terbaik ketika mewakili Kabupaten Kampar pada MTQ tingkat Provinsi Riau.

Pesan tersebut mengandung makna penting. Prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh melalui pembinaan yang terarah, pelatih yang berdedikasi, dukungan pemerintah, keterlibatan lembaga pendidikan dan keagamaan, serta perhatian masyarakat terhadap generasi pencinta Al-Qur’an.

Karena itu, MTQ hendaknya menjadi titik tolak untuk membangun pembinaan yang berkelanjutan. Setelah piala dibagikan dan arena perlombaan ditinggalkan, semangat belajar, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an harus tetap hidup.

Empat belas cabang dan golongan, satu semangat mencintai Al-Qur’an

Sementara itu, H. Zulfaimar menjelaskan bahwa pada hari kedua, berbagai cabang dan golongan diperlombakan di sejumlah lokasi di Kecamatan Gunung Sahilan.

Cabang Tartil dan Tilawah Anak-anak serta Tilawah Dewasa berlangsung di Astaka Utama. Qira’at Murattal Remaja digelar di Masjid Baitussalam Sholeh, Desa Kebun Durian.

Cabang Tahfiz 1 Juz dan Tilawah serta Tahfiz 5 Juz dan Tilawah berlangsung di Masjid Al-Ubudiyah, Desa Kebun Durian. Sementara itu, Tahfiz 10 Juz dan Tahfiz 20 Juz dilaksanakan di Masjid Siti Aminah, Desa Sungai Lipai.

Perlombaan Hadis 100 Hadis dan Hadis 500 Hadis berlangsung di Masjid Nurul Ikhlas, Desa Kebun Durian. Adapun Fahmil Qur’an Putra dan Putri diselenggarakan di SMPN 2 Gunung Sahilan.

Untuk cabang kaligrafi, golongan Khat Hiasan dan Khat Kontemporer dipusatkan di SDN 010 Kebun Durian.

Setiap cabang menghadirkan keistimewaan tersendiri. Tilawah memperlihatkan keindahan bacaan dan penghayatan ayat suci. Tahfiz menguji kekuatan hafalan serta ketelitian menjaga firman Allah. Fahmil Qur’an menuntut keluasan pengetahuan dan kecermatan memahami kandungan Al-Qur’an, sedangkan cabang hadis mengasah penguasaan terhadap warisan ajaran Rasulullah SAW.

Di sisi lain, seni kaligrafi menghadirkan keindahan tulisan sebagai salah satu bentuk ekspresi kecintaan terhadap ayat-ayat Allah.

Keberagaman cabang tersebut memperlihatkan bahwa syiar Islam memiliki banyak jalan untuk menyentuh hati manusia. Ada yang berdakwah melalui suara, ada yang menjaga Al-Qur’an melalui hafalan, ada yang mendalaminya melalui pemahaman, dan ada pula yang menghadirkan keindahannya melalui karya seni.

Semuanya bertemu dalam satu tujuan: memuliakan Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman kehidupan.

Dukungan masyarakat, energi bagi para pejuang Al-Qur’an

Melalui media, Zulfaimar mengimbau seluruh masyarakat Kabupaten Kampar, khususnya masyarakat Kecamatan Gunung Sahilan, untuk menyaksikan dan memeriahkan rangkaian perlombaan MTQ ke-55.

Ia mengajak masyarakat memberikan dukungan dan semangat kepada para qari dan qariah agar dapat tampil maksimal.

Ajakan ini patut disambut dengan antusias. Kehadiran masyarakat di arena perlombaan bukan hanya menambah semarak suasana, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan terhadap perjuangan para peserta dan pembimbing yang telah mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh.

Bagi seorang peserta, dukungan sederhana berupa tepuk tangan yang santun, doa, dan perhatian masyarakat dapat menjadi sumber motivasi yang berharga. Mereka akan merasakan bahwa usaha mempelajari dan menjaga Al-Qur’an merupakan perjuangan yang dihargai bersama.

Lebih jauh, MTQ juga menjadi ruang perjumpaan antargenerasi. Anak-anak dapat menyaksikan teladan dari para penghafal Al-Qur’an, remaja menemukan inspirasi untuk mengembangkan kemampuan, sementara orang tua dan para pendidik kembali diingatkan tentang pentingnya menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan keluarga.

Inilah makna MTQ yang sesungguhnya. Perhelatan ini tidak semestinya berhenti pada kemeriahan panggung, penilaian dewan hakim, atau perebutan gelar juara. Syiar Al-Qur’an harus menjangkau rumah-rumah, sekolah, madrasah, pesantren, masjid, dan seluruh lapisan masyarakat.

Dari arena perlombaan menuju kehidupan yang Qur’ani

MTQ ke-55 Kabupaten Kampar di Kecamatan Gunung Sahilan merupakan kesempatan untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun masyarakat yang dekat dengan Al-Qur’an.

Kelancaran pelaksanaan patut disyukuri. Kerja keras panitia layak diapresiasi. Kemampuan para peserta perlu terus dibina. Sementara itu, dukungan masyarakat harus dijaga agar kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak hanya tumbuh ketika MTQ berlangsung, tetapi juga bersemi dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, kemuliaan Al-Qur’an tidak hanya terletak pada merdunya lantunan, kuatnya hafalan, atau indahnya tulisan. Kemuliaan itu juga tercermin ketika nilai-nilainya membimbing manusia untuk berkata jujur, berbuat adil, menghormati sesama, menjaga persaudaraan, dan menebarkan kebaikan.

Semoga dari Gunung Sahilan lahir generasi Kampar yang tidak hanya unggul dalam perlombaan, tetapi juga kokoh akhlaknya, luas pemahamannya, dan kuat komitmennya dalam mengamalkan ajaran Islam.

Mari bersama-sama menyukseskan MTQ ke-55 Kabupaten Kampar. Hadirkan dukungan, panjatkan doa, dan kobarkan semangat para pejuang Al-Qur’an. Karena ketika Al-Qur’an semakin dekat dengan hati masyarakat, di sanalah harapan untuk membangun Kampar yang religius, berakhlak mulia, dan penuh keberkahan terus menemukan jalannya.

Al-Qur’an menerangi hati, MTQ menguatkan syiar, dan masyarakat menjadi bagian dari perjuangan memuliakan firman Ilahi.

Ditulis oleh: Adi Jondri Putra

Artikel Terkait