06 September 2026

Ditandai Campak Jala Pertama Bersama Ninik Mamak, Bupati Kampar Dapatkan Ikan Baung di Mancokau Tanjung Belit


154 views

TANJUNG BELIT, Kampar Kiri Hulu – Tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Sungai Subayang, Desa Tanjung Belit, Kecamatan Kampar Kiri, berlangsung penuh semangat dan kebersamaan. Tradisi yang menjadi bentuk kearifan lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian sumber daya perikanan tersebut secara resmi dibuka dengan campakan jala pertama oleh Bupati Kampar Ahmad Yuzar, Sabtu (5/9/2026). 

Hadir mendampingi Bupati Kampar didampingi oleh Sekda Kampar Dr. Ardi Mardiansyah S.STP M.Si dan isteri yang juga Ny. Yuni Pratiwi Sari Ardi Mardiansyah , Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Afdal, ST, MT, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kampar Zulfahmi, Kepala Bapenda Kampar Zamhur, ST, MT, Kepala Dinas Pertanian Nurilahi Ali, Ketua Baznas Kampar Arizon, SE, Camat Kampar Kiri Hulu Bustamar beserta Forkopimcam, para Kabag di Lingkungan Setda Kampar Kepala desa Tanjung Belit Efri Desmi. 

Menariknya, jala pertama yang dilempar Bupati Kampar bersama Ninik Mamak Kenegerian Tanjung Belit langsung membuahkan hasil. Seekor ikan baung berhasil didapatkan, menjadi tanda dimulainya panen ikan di Lubuk Larangan setelah masyarakat bersama-sama menjaga kawasan sungai selama satu tahun.

Campakan jala tersebut diawali oleh Ninik Mamak Kenegerian Tanjung Belit, di antaranya Datuok Godang Refri Zarman, Dt. Dubalang Setio dan Dt. Singo (Ujang). Setelah itu, Bupati Kampar Ahmad Yuzar bersama Sekda Kampar Dr. Ardi Mardiansyah, S.STP., M.Si., Kepala Dinas Perikanan Zulfahmi serta Kepala Baznas Kabupaten Kampar turut menaiki sampan piaw dan turun langsung ke Sungai Subayang untuk melakukan campakan jala perdana.

“Alhamdulillah, tangkapan pertama ini mendapatkan ikan baung,” ujar Bupati Kampar Ahmad Yuzar penuh syukur.

Bupati mengatakan, kegiatan Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Tanjung Belit merupakan tradisi yang sangat luar biasa. Tidak hanya menjadi momentum masyarakat menikmati hasil dari sungai, tetapi juga mencerminkan hubungan yang harmonis antara manusia, adat dan alam.

“Kegiatan ini sungguh luar biasa. Kita beradaptasi langsung, menyatu dan bersahabat dengan alam,” kata Ahmad Yuzar usai ikut langsung turun ke Sungai Subayang.

Menurutnya, keberhasilan masyarakat mendapatkan hasil tangkapan ikan merupakan bukti nyata bahwa alam akan memberikan manfaat apabila dijaga dan dilestarikan dengan baik.

“Kepedulian kita semua untuk menjaga alam sangat penting. Selama satu tahun kita tidak menangkap ikan. Setelah sampai masanya, ikan baru kita tangkap dan panen bersama-sama,” jelasnya.

Bupati Kampar mengapresiasi Ninik Mamak, tokoh masyarakat dan seluruh masyarakat Tanjung Belit yang secara konsisten menjaga Lubuk Larangan. Menurutnya, kearifan lokal seperti ini harus terus dipertahankan karena tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekosistem sungai dan sumber daya ikan.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga alam dan mewariskan tradisi tersebut kepada generasi berikutnya.
“Mari kita lestarikan dan kita lanjutkan untuk generasi mendatang,” pungkas Bupati Kampar Ahmad Yuzar yang selanjutnya mengikuti seluruh menangkap ikan dengan pukat dan ikut langsung masuk ke sungai bersama-sama dengan masyarakat. 

Tradisi Mancokau Ikan di Lubuk Larangan Tanjung Belit menjadi gambaran nyata bahwa ketika masyarakat bersama-sama menjaga alam, alam pun akan memberikan manfaat kembali kepada masyarakat. Nilai gotong royong, adat dan kecintaan terhadap lingkungan inilah yang menjadi kekuatan dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam di Kabupaten Kampar.
(Diskominfosan/ProDokpim/Pdy)

Artikel Terkait