Loading
Salo – Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau, Dr. Umi Kulsum, S.S., M.Hum., memberikan apresiasi tinggi atas suksesnya pelaksanaan Pelatihan Sastra Lisan yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Budaya Adat Istiadat Kampar (LPP BAIK) Salo.
Kegiatan tersebut dinilai sebagai salah satu langkah nyata dalam menjaga, melestarikan, serta mewariskan adat, budaya, bahasa dan kekayaan intelektual lokal kepada generasi penerus.
Pelatihan Sastra Lisan yang mengangkat salah satu khazanah budaya khas Kabupaten Kampar, yakni Basiacuong, secara resmi ditutup di Aula LPP BAIK, Dusun Sialang, Desa Salo, Kecamatan Salo, Ahad (23/8/2026). Penutupan ditandai dengan penyerahan plakat dari LPP BAIK Salo kepada kepala Balai bahasa Riau dan penampilan Basiacuong.
Dalam sambutannya, Dr. Umi Kulsum menyampaikan bahwa keberadaan sastra lisan dan bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas serta kekayaan intelektual masyarakat yang harus terus dijaga.
Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, berbagai tradisi lisan dikhawatirkan semakin tergerus apabila tidak dilakukan upaya pelestarian secara serius dan berkelanjutan.
Menurutnya, pelatihan seperti yang dilaksanakan LPP BAIK Salo menjadi wadah penting untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap adat istiadat dan kearifan lokal.
“Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk perwujudan semangat dan kepedulian kita dalam melestarikan adat, budaya, bahasa serta sastra lisan. Kekayaan intelektual lokal harus terus kita pertahankan agar tidak hilang tergerus oleh perkembangan zaman,” ujar Umi Kulsum.
Ia berharap melalui kegiatan tersebut akan tumbuh generasi-generasi muda yang tidak hanya memahami, tetapi juga mampu menguasai, mengembangkan dan mewariskan nilai-nilai adat istiadat serta kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
“Kami berharap dari pelatihan ini akan lahir generasi penerus yang mencintai adat istiadat, bahasa dan kearifan lokal daerahnya,” pintanya.
Sementara itu, Camat Salo Sofiandi, S.E., M.M., menyampaikan rasa syukur dan bangga atas kepercayaan yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dan Balai Bahasa Riau kepada LPP BAIK Salo untuk menyelenggarakan kegiatan pelatihan sastra lisan tersebut.
Menurut Sofiandi, kepercayaan tersebut merupakan sebuah kehormatan bagi Kecamatan Salo sekaligus menjadi motivasi untuk terus menjaga dan mengembangkan warisan budaya yang dimiliki Kabupaten Kampar.
“Kecamatan Salo mendapat kehormatan atas kepercayaan yang diberikan kepada LPP BAIK Salo dalam menyelenggarakan pelatihan ini. Tentunya, kegiatan ini sangat penting dalam melahirkan generasi yang memahami, mengerti dan mencintai adat istiadat, khususnya bagi generasi muda di Kabupaten Kampar,” ujar Sofiandi.
Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Kampar di bawah kepemimpinan Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar, S.Sos., M.T. dan Wakil Bupati Kampar Dr. Hj. Misharti, S.Ag., M.Si., memberikan dukungan penuh terhadap berbagai upaya pelestarian adat dan budaya Kampar.
“Pemerintah Kabupaten Kampar sangat mendukung pelestarian adat dan budaya. Karena adat dan budaya merupakan jati diri serta kekayaan yang harus terus kita jaga bersama,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pembina Yayasan LPP BAIK, Datuk H. Safrizal, S.E., M.M., mengungkapkan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada LPP BAIK Salo sebagai penyelenggara Pelatihan Sastra Lisan tersebut.
Ia menilai, kepercayaan tersebut merupakan sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya masyarakat Kampar.
“Kami mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada LPP BAIK Salo untuk menyelenggarakan pelatihan sastra lisan ini. Tentu ini merupakan suatu kehormatan bagi kami,” ujar Datuk H. Safrizal.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan pada masa mendatang dengan jangkauan peserta yang lebih luas. Menurutnya, pelestarian sastra lisan Basiacuong sangat penting karena merupakan salah satu adat dan budaya khas Kabupaten Kampar yang keberadaannya kini mulai berkurang dalam kehidupan generasi muda.
“Kami berharap ke depan pelatihan ini dapat kembali diselenggarakan. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi pelestarian adat istiadat, terutama Basiacuong yang merupakan adat khas Kampar dan saat ini mulai semakin jarang dikenal. Melalui pelatihan ini, kita berharap akan muncul kembali generasi penerus yang mampu melestarikan adat istiadat tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan LPP BAIK, Usman Effendi, S.E., menjelaskan bahwa Pelatihan Sastra Lisan tersebut diikuti sebanyak 70 orang peserta. Kegiatan dilaksanakan dalam beberapa tahap, yakni pada tanggal 8, 9, 15 dan 16 Agustus 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan serta acara penutupan pada 23 Agustus 2026.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, panitia menghadirkan sejumlah tokoh adat dan praktisi sastra lisan Kampar sebagai narasumber, yakni Datuk Erman, Datuk Emi Zamzami dan Datuk Syahrul. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga langsung mempraktikkan sastra lisan Basiacuong.
“Pelatihan ini diikuti sebanyak 70 orang peserta dengan menghadirkan narasumber dari tokoh-tokoh adat Kampar yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam sastra lisan. Materi yang diberikan juga langsung diaplikasikan melalui praktik,” kata Usman Effendi.
Ia bersyukur seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana dengan baik dan mendapat sambutan serta antusiasme yang tinggi dari seluruh peserta.
“Alhamdulillah, pelatihan sastra lisan Basiacuong ini telah berjalan dengan sukses dan lancar. Seluruh peserta sangat antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan. Semoga ilmu yang diperoleh dapat terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” tutupnya.
Pelatihan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial semata, tetapi menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga keberadaan sastra lisan Basiacuong sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya Kabupaten Kampar. Dengan keterlibatan pemerintah, lembaga kebudayaan, tokoh adat dan generasi muda, warisan budaya Kampar diharapkan tetap hidup, berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi.
(Diskominfo Kampar/Pdy)