15 Agustus 2026

LPTQ Kampar Perkuat Pembinaan dari Daerah: “Hormati Supremasi MTQ”


269 views

Bangkinang, — Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Kampar meneguhkan komitmen untuk memperkuat pola pembinaan qari dan qariah secara lebih terarah, merata, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut mengemuka dalam rapat LPTQ Kabupaten Kampar yang digelar di Aula Pertemuan Gedung LPTQ Kabupaten Kampar, Kamis (13/8/2026).

Rapat dipimpin Ketua Harian LPTQ Kabupaten Kampar, Dr. H. Erman Gani, MA, didampingi Kabag Kesra Jalal Suyuti, Sekretaris LPTQ H. Zulfaimar, M.A.P, serta Koordinator Bidang Pembinaan dan Prestasi H. Ahmad Fadhli. Pertemuan tersebut diikuti pengurus LPTQ, para pelatih, dan ofisial.

Suasana rapat berlangsung serius namun konstruktif. Berbagai gagasan disampaikan sebagai bahan evaluasi sekaligus strategi untuk meningkatkan prestasi Kampar pada ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di masa mendatang.

Salah satu perhatian utama adalah pembinaan yang harus menyentuh hingga ke pelosok kecamatan. Nurlijus menekankan pentingnya LPTQ mengirimkan pelatih ke daerah-daerah, terutama wilayah yang selama ini belum tersentuh pembinaan secara maksimal.
Menurutnya, pembinaan tidak boleh hanya terpusat di tingkat kabupaten. Potensi qari dan qariah harus dicari sejak dini dari kecamatan, desa, hingga pelosok yang mungkin selama ini belum terdeteksi.

Gagasan tersebut diperkuat Marzuki Malik yang mendorong adanya penelusuran bibit potensial ke daerah. Ia juga mengusulkan pelatihan guru mengaji yang disertai sertifikat kompetensi serta mendorong pelaksanaan MTQ hingga tingkat desa dan kelurahan. Dengan demikian, proses kaderisasi dapat berlangsung secara berjenjang dan berkesinambungan.

Faisal mengusulkan agar LPTQ membuka kerja sama lebih luas dengan pondok pesantren. Pesantren dinilai memiliki sumber daya dan potensi besar dalam melahirkan generasi Qur’ani. Komunikasi dengan pihak pondok juga menjadi perhatian Rifi agar proses pembinaan dan pencarian bibit dapat dilakukan secara lebih maksimal.

Pembinaan tidak hanya berbicara tentang jumlah peserta, tetapi juga kualitas kemampuan. Bustanuddin mengingatkan adanya kelemahan sebagian peserta Kampar dalam aspek tajwid dan sifat-sifat huruf. Karena itu, pembinaan harus menyentuh aspek teknis secara mendalam sehingga peserta tidak hanya memiliki kemampuan tampil, tetapi benar-benar memiliki kualitas bacaan yang memenuhi standar perlombaan.

Untuk cabang Fahmil Qur’an, peserta diharapkan dipilih berdasarkan kemampuan dan potensi masing-masing. Umi Ani Fudhlah menekankan pentingnya materi Fahmil dan Syarhil Qur’an diinformasikan kepada peserta sejak awal, sehingga mereka memiliki waktu yang cukup untuk mempelajari dan menguasainya.

Selain itu, perlu dibentuk tim penyusun soal tanya jawab Fahmil Qur’an yang benar-benar mengacu kepada silabus. Langkah tersebut penting agar proses latihan peserta lebih terarah dan materi yang dipelajari sesuai dengan tuntutan perlombaan.

LPTQ juga dipandang perlu mendatangkan pelatih dari tingkat provinsi maupun nasional. Namun, kehadiran pelatih tersebut hendaknya disertai materi yang spesifik sesuai cabang dan kebutuhan peserta, sehingga pembinaan tidak berhenti pada pelatihan umum.
MTQ Harus Dirawat sebagai Tradisi Keilmuan dan Prestasi. 

Hidayati menyampaikan gagasan agar pelaksanaan MTQ Kabupaten Kampar diupayakan lebih awal dibandingkan kabupaten lain. Hal ini penting karena para qari dan qariah sering mengejar kesempatan atau “tiket” untuk mengikuti MTQ di tingkat provinsi. Sehingga jika Kampar lambat melaksanakan MTQ tingkat Kabupaten, maka para qori' dan Qori'ah mengikuti MTQ di Kabupaten lain.

Di sisi lain, proses seleksi dewan hakim juga harus dilakukan secara baik dan profesional, terutama pada cabang-cabang yang membutuhkan kompetensi khusus seperti kaligrafi. Kualitas hakim akan sangat menentukan objektivitas dan kredibilitas hasil perlombaan.

Arbi menyoroti persoalan dukungan anggaran di tingkat kecamatan. Menurutnya, alokasi anggaran perlu disesuaikan dengan jumlah cabang dan peserta yang diperlombakan. Bahkan diperlukan ketegasan dari Bupati kepada pihak kecamatan agar pelaksanaan MTQ tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar didukung dengan pembiayaan yang memadai.

Latif juga mengingatkan pentingnya peningkatan anggaran LPTQ untuk mendukung pembinaan. Sebab, pembinaan yang berkualitas membutuhkan biaya, mulai dari mendatangkan pelatih, pelaksanaan pemusatan latihan, penyediaan materi, hingga dukungan terhadap kebutuhan peserta.

Database Prestasi dan Kesehatan Peserta
Hal penting lainnya adalah pembangunan database prestasi qari dan qariah Kabupaten Kampar. Database tersebut dapat menjadi instrumen untuk memetakan potensi, melihat rekam jejak prestasi, menentukan pola pembinaan, sekaligus memudahkan LPTQ dalam menyiapkan peserta secara berkelanjutan.

Pola pembinaan qari dan qariah juga perlu diperbaiki. Jangan sampai pembinaan baru dilakukan menjelang MTQ. Sebaliknya, pembinaan harus dimulai jauh hari dengan sistem yang terukur dan berkesinambungan.
Syukri Asya’ari mengingatkan agar aspek kesehatan fisik dan psikis peserta tidak diabaikan. Peserta MTQ bukan hanya membutuhkan kemampuan intelektual dan teknis, tetapi juga kondisi fisik dan mental yang prima. Tekanan perlombaan, perjalanan, latihan intensif, serta tuntutan prestasi harus dikelola dengan baik.

Dari berbagai gagasan yang muncul, rapat LPTQ Kabupaten Kampar tersebut pada hakikatnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana memenangkan perlombaan. Lebih jauh, forum tersebut berbicara tentang bagaimana membangun ekosistem pembinaan Al-Qur’an yang kuat dari tingkat desa hingga kabupaten.
MTQ harus dihormati sebagai bagian dari tradisi keilmuan, dakwah, pembinaan generasi, dan kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an. Prestasi memang penting, tetapi prestasi harus lahir dari proses pembinaan yang sehat, objektif, profesional, dan berkelanjutan.

Karena itu, semangat “Hormati Supremasi MTQ” menjadi pesan penting yang perlu diterjemahkan dalam bentuk kerja nyata: mencari bibit terbaik, memperkuat pelatih, memperluas jaringan pembinaan, menggandeng pesantren, membangun database prestasi, memperbaiki sistem seleksi, serta memastikan dukungan anggaran yang memadai.

Jika pembinaan benar-benar dimulai dari daerah dan dilakukan secara konsisten, maka MTQ tidak lagi sekadar menjadi agenda tahunan. Ia akan menjadi gerakan pembinaan generasi Qur’ani yang terus tumbuh dari desa, kecamatan, hingga Kabupaten Kampar.
Dan dari sanalah, prestasi besar diharapkan lahir, bukan secara instan, melainkan melalui proses panjang yang menghargai ilmu, disiplin, pembinaan, dan kemuliaan Al-Qur’an.(Diskominfo Kampar /AJ /Pdy)

Artikel Terkait