Loading
Bangkinang Kota,- Wakil Bupati Kampar Sekaligus Ketua PGRI Kabupaten Kampar Dr. Misharti. S.Ag. M.Si membuka kegiatan pelatihan penguatan keterampilan guru muatan lokal budaya Melayu Riau SD, SMP, SMA dan SMK Se Kabupaten Kampar di Gedung Guru Bangkinang, Kamis (9/7).
Turut hadir dalam kegiatan ini di antaranya Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Pemuda Olah Raga Helmi. SH. MH, narasumber Datuk Taufik Ikram Jamil, Ketua Panitia sekaligus narasumber Datuk Syaiful Anuar dan seluruh guru muatan lokal budaya Melayu Riau SD, SMP, SMA dan SMK Se Kabupaten Kampar.
Pelatihan ini digagas sebagai upaya memperkuat identitas budaya Melayu Riau terutama tradisi atau budaya Kabupaten Kampar di tengah arus globalisasi. Muatan lokal dianggap sebagai benteng pendidikan karakter, sekaligus sarana memperkenalkan nilai-nilai luhur budaya daerah kepada generasi muda. Dengan adanya pelatihan ini, guru diharapkan mampu mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam proses pembelajaran secara kreatif dan kontekstual.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Kampar Dr. Misharti. S.Ag. M.Si menegaskan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menjaga dan melestarikan budaya Kabupaten Kampar. Ia menyampaikan guru bukan hanya pengajar ilmu pengetahuan, tetapi juga penjaga nilai-nilai budaya. Melalui muatan lokal, kita ingin anak-anak Riau tumbuh dengan identitas yang kuat, berakar pada tradisi Melayu, namun tetap siap menghadapi tantangan zaman.
Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemerintah Daerah, PGRI dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan untuk memastikan keberlanjutan program ini. Peserta yang hadir berasal dari guru seluruh kabupaten Kampar. Kehadiran mereka menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penguatan muatan lokal.
“Banyak guru menyampaikan harapan agar pelatihan ini tidak berhenti pada tataran teori, tetapi benar-benar diterapkan dalam kurikulum sekolah budaya Kabupaten Kampar,” tambah Misharti.
Dr. Misharti menutup sambutannya dengan pesan agar guru menjadi pionir dalam membumikan budaya Melayu dan budaya Kabupaten Kampar di sekolah. Ia berharap pelatihan ini menjadi langkah menuju kurikulum yang lebih berakar pada budaya lokal, sekaligus relevan dengan perkembangan global.
“Muatan lokal bukan sekadar pelengkap, tetapi inti dari pendidikan karakter anak-anak kita. Dengan begitu, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang berbudaya, berakhlak dan berdaya saing,” tutup Misharti.(Diskominfo Kampar/RF)